News-Banner
Newsroom

In the News

firefighting-preparation

Our firefighting efforts in the News: Firefighting Preparation

By: GAR Posted: October 13, 2015 Tags: ,

Di Balik Cerita Kebakaran Lahan PT Agrolestari Mandiri (bagian tiga-selesai)

suarapemred.co.id – 8 Oktober 2015

Siagakan Kanal dan Embung

Our firefighting efforts in the News: Firefighting Preparation

Suara Pemred melihat langsung bagaimana kesigapan dan kesiapan PT Agrolestari Mandiri, menghadapi kebakaran lahan. Kawasan perusahaan ini dikelilingi dengan rimbunnya pohon sawit.

Akses jalan mengelilingi kebun juga mudah. Sawit yang ditanam ribuan hektare itu bisa ditempuh dengan mobil dan angkutan berat. Di antara areal sawit itu terpasang plang amaran atau peringatan “Dilarang Membakar.”

Pihak perusahaan juga membangun beberapa unit menara api setinggi 6-10 meter. Di menara ini, bila memasuki musim kemarau, sejumlah karyawan berjaga di atas menara.

Khusus untuk cadangan air, perusahaan juga membuat embung air di titik kawasan rawan kebakaran. Embung ini dibuat dengan bahan terpal ukuran besar, kemudian di dalamnya diisi air ribuan kubik. Itu baru skala kecil. Dalam skala besar, perusahaan juga telah membangun tangki air ukuran 20 ribu dan 500 ribu kubik, juga ditempatkan di daerah rawan kebakaran.

“Persiapan itu sudah kami lakukan beberapa bulan lalu. Jauh sebelum kemarau panjang melanda sekarang,” kata Haryo S, satu di antara manajer di PT Agrolestari Mandiri, kepada Suara Pemred.

Ibarat dalam sebuah medan pertempuran. Kanal, embung, dan tanki cadangan air adalah amunisi yang harus dipersiapkan. Tetapi peralatan tempur sesungguhnya justru ada di barak.

Sebagai antisipasi kebakaran perusahaan perkebunan PT Agrolestari Mandiri memiliki mobil Damkar standar Nasional, belasan trailer tangki dan mesin pompa air portabel.

Bahkan untuk pasukan juga dipersiapkan seragam standar pemadam kebakaran. Seperti helm, sepatu boat, masker, kaca mata, sarung tangan kulit, galah pengait, chain saw, sekop, tool kit, karung goni dan lainnya.

“Semua peralatan yang kita punya, kita turunkan ke lokasi bila terjadi kebakaran lahan,” tutur Haryo.

Siang itu, pada sebuah pondok beratap seng, tiga lelaki sedang duduk santai. Mereka adalah Sarpai, Akin, Maspawadi. Ketiganya adalah karyawan Agrolestari Mandiri. Kebetulan, lokasi gubuk, berada di areal kebun

“Tahun ini kami rasakan betul kemarau panjang,” kata Sarpai.

Ia adalah warga Sui Durian, Kecamatan Nanga Tayap, Ketapang. Sarpai mengklaim, musim kemarau ini yang terlama dalam beberapa tahun terakhir. Mereka bercerita, di desanya lebih dari empat bulan, hujan tidak turun. Selama itu pula, warga mencemaskan adanya kebakaran lahan.

“Untung ada perusahaan bantu kami memadamkan api dengan peralatan milik perusahaan. Kalau tidak, desa kami bisa ikut terbakar,” kata Sarpai.

Padahal, dari dulu sampai sekarang, warga lokal masih berladang dengan teknik membakar lahan. Hanya saja, dulu jarang terjadi kemarau panjang. Biasanya hanya sebulan lebih. Tapi ini sudah lebih dari empat bulan.

“Kalau pun ada lahan yang terbakar, tidak meluas seperti sekarang,” tuturnya.

Ia juga tidak setuju, bahwa perusahaan perkebunan selalu dihubungkan dengan pelaku pembakaran lahan. Warga Desa Sui Durian misalnya, hampir 70 persen adalah karyawan PT Agrolestari Mandiri, sampai sekarang tidak pernah melihat adanya aktivitas perusahaan membakar lahan. Setiap kali melakukan pembukaan lahan, semua dilakukan dengan alat berat. Seperti buldoser dan traktor.

“Mulai dari jabatan buruh, mandor hingga manajer. Semuanya diberi amaran menjaga lahan tidak terbakar,” kata Ikin menambahkan. Termasuk membuang puntung rokok tidak boleh dibuang sembarangan.

Pada kesempatan terpisah, Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Agatho Adan menyebutkan, sejak Kalbar dilanda bencana kabut asap, pihaknya sudah membentuk Satgas Sosialisasi.

“Kami sudah mengundang sekitar 43 perusahaan di Kalbar membahas permasalahan ini. Pada intinya mereka telah siap. Baik dari segi personil maupun kelengkapan alat Dampar,” tuturnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Nyarong menambahkan, sampai saat ini belum ada teknologi canggih yang bisa memadamkan api di lahan gambut.

“Kami sudah berusaha memadamkan api dengan segala cara,” tutur Nyarong, belum lama ini, kepada Suara Pemred.

Berdasarkan pengalaman, titik api yang kelihatan di permukaan, pada saat dipadamkan dengan cara disiram dari atas, hanya bisa memadamkan sementara. Sementara bara api justru berada di dalam lahan, bisa membakar hingga kedalaman satu meter.

“Jadi kalau kita padamkan dari atas. Padamnya sementara. Di lahan yang sama bisa terbakar lagi,” tuturnya. (agus wahyuni/lis)

peat-management-foto

Our firefighting efforts in the News: Peat Management

By: GAR Posted: October 13, 2015 Tags: ,

Di Balik Cerita Kebakaran Lahan PT Agrolestari Mandiri (bagian kedua)

suarapemred.co.id – 8 Oktober 2015

Our firefighting efforts in the News: Peat Management

Suara mesin pompa air berkekuatan seribu meter kubik menderu di pinggir Sungai Kayong, Jumat siang, 2 Oktober 2015. Hari itu Suara Pemred bertemu dua petugas PT Agrolestari Mandiri di lokasi. Mereka mengaku mendapat giliran jaga mengoperasikan pompa air tetap stan by 24 jam.

Haryadi Manajer Kebun PT Agrolestari menyebutkan, pihak perusahaan sudah jauh hari menyiagakan mesin pompa air ini. Ada lima unit ditebar di lima titik. Dua Unit unit menyedot air sungai kemudian disedot kembali dengan pompa air yang lain.

“Mesin pompa air ini bersifat fortable,” tutur Haryadi.

Cara kerjanya sederhana. Mulanya pompa ini menyedot air sungai kemudian ditampung dalam areal penampungan. Begitu air di penampungan ini penuh, air kemudian air dengan sendirinya mengalir ke jalur kanal yang telah dibuat oleh perusahaan.

“Aliran air ini berfungsi membasahi areal kawasan lahan gambut yang rawan terbakar, ada 3, 5 kilometer jalur kanal dibuat,” tutur Haryadi. Dari pengakuan petugas jaga pompa air. Mereka bertugas mengoperasikan mesin pompa 20 jam. Tiap unit pompa dijaga empat orang. Mereka membagi shift. Dua orang siang dan dua orang malam.

Perlu diketahui, biaya operasi mesin pompa ini, satu jam menyedot solar sebanyak 7 liter. Di perusahaan ini ada lima unit mesin pompa yang beroperasi. Artinya, dalam satu jam saja, sekitar 140 liter solar terpakai untuk menyedot air. Itu belum termasuk biaya pembuatan kanal.

Warga sekitar tidak mempermasalahkan aktivitas perusahaan menyedot air sungai mereka. Maspawandi, Kepala Dusun Sui Durian mengatakan, aktivitas ini tidak hanya menguntungkan perusahaan tetapi juga warga sekitar.

“Air sungai yang mereka sedot itu untuk membasahi gambut agar tidak terbakar. Bayangkan kalau terbakar. Kampung kami juga ikut terbakar, karena lokasinya dekat dengan kawasan pemukiman,” tutur Maspawandi, hari itu berada di lokasi pompa air.

Upaya perusahaan melawan kebakaran lahan tidak sampai di situ. Jauh sebelum musim kemarau tiba saja, perusahaan ini bisa dibilang siap menghadapi kebakaran lahan. Kapolsek Nanga Tayap, AKP Imbang Sulistiyono mengatakan, sejauh ini munculnya titik api tidak bisa diprediksi. Seperti di Bukit Manangis, merupakan kawasan hutan lindung ikut terbakar.

Lokasinya sekitar 15 kilometer dari pusat desa. Di kawasan ini, petugas tampak pasrah. Selain medan yang sulit diakses dengan kendaraan, kawasan ini juga tidak bisa diterabas, lantaran statusnya masuk kawasan hutan lindung.

“Kepolisian dan PT Agrolestari sudah proaktif memadamkan api. Tapi musim kering dan lahan gambut yang mudah terbakar, api bisa muncul kapan saja,” tutur Imbang. Bisa karena faktor api yang terbawa angin, faktor kelalaian manusia, seperti membuang puntung rokok di areal gambut.

Ikin, warga Desa Sui Durian, Kecamatan Nanga Tayap mengaku pernah melihat aktivitas warga di kawasan hutan sedang membakar ikan. Sebelumnya mereka mencari ikan di sungai, memanfaatkan air sungai yang mengering. Sebagian hasil tangkapan di bawa pulang dan sisanya dibakar untuk dimakan.

“Mereka sempat kami tangkap untuk diberi peringatan agar tidak membakar ikan di kawasan hutan,” kata Ikin. Tapi setelah itu, sisa-sisa tungku pembakaran ikan sering terlihat di areal yang sama. (agus wahyuni)

fire-management-20151006sinar_mas

Our firefighting efforts in the News: Fire Management

By: GAR Posted: October 13, 2015 Tags: ,

PT-ALMN Distribusikan Air Ke Kanal Untuk Cegah & Padamkan Kebakaran

kalbar.antaranews.com – 6 Oktober 2015

Our firefighting efforts in the News: Fire Management
Pontianak (Antara Kalbar) – PT Agro Lestari Mandiri anak perusahaan Sinar Mas Grup di Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang dalam tiga minggu terakhir telah mendistribusikan air ke kanal-kanal sekeliling untuk mencegah & memadamkan kebakaran di kawasan yang mengalami kebakaran.

“Karena kawasan yang terbakar masuk hutan gambut, maka kami tidak bisa masuk jauh kedalam dalam memadamkan kebakaran, karena tidak ada akses jalan, setelah melakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat, muspika, maka disepakati membuat kanal untuk menyuplai air agar bia menggenangi areal gambut yang terbakar,” kata Manager PT AMNL Herman di Nanga Tayap, Minggu.

Kepala Dusun Sungai Durian, Desa Nanga Tayap Maspawandi menyampaikan sudah tiga minggu ini perusahaan terus melakukan penyedotan air dari Sungai, yang titik penyedotan airnya sebanyak lima titik, tiga titik menyedot langsung ke sungai, dua lagi dari kanal satu ke lainnya, yang dilakukan 20 jam dalam satu hari, dengan kapasitas 1.000 meter kubik per jam sejak 10 September hingga sekarang.

“Pola distribusi air ke kanal-kanal ini didukung oleh masyarakat, karena juga dapat mencegah kebakaran di lahan miliknya. Kami melihat perusahaan berusaha maksimal untuk memadamkan api tanpa memperhitung biaya yang dikeluarkan, baik dari segi penyediaan peralatan pemadaman, petugas pemadamnya serta lainnya, yang penting kebakaran bisa secepatnya dipadamkan,” jelas Maspawandi

Dari pantauan lapangan pihak perusahaan sudah melakukan berbagai upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran, dengan memasang papan amaran agar tidak membakar atau yang bisa menyebabkan kebakaran, melakukan sosialisasi bersama muspika kepada masyarakat, dan menyediakan sarana dan prasarana dalam untuk memadamkan api, seperti mobil pemadam kebakaran, petugas, termasuk membuat kanal, menara api (tempat memantau api) dan embung-embung tempat penyimpanan air, serta meletakkan tangki-tangki air (fiber) ukuran 20.000 liter sebanyak 6 unit dan ukuran 50.000 liter sebanyak 2 unit di lokasi yang masuk dalam areal rawan kebakaran.

“Kami tidak mungkin atau sengaja membakar dalam membersihkan lahan, dan kalau itu dilakukan, maka suatu kebodohan bagi kami, karena yang tadinya mau untung tetapi resiko besar, dan dalam pembukaan lahan komitmen ‘zero burning’ pembukaan lahan tidak boleh dengan cara dibakar, kalau itu tetap dilakukan managernya pasti langsung pecat,” kata Herman.

Sementara itu, Kapolsek Nanga Tayap AKP Imbang Sulistyono menyatakan, kebakaran hutan dan lahan, asal api tidak diketahui tetapi dari atas Bukit Batu Menangis kemudian merembet hingga ke areal sekitar perkebunan PT Agro Lestari Mandiri.

“Kami bekerjasama dengan pihak perusahaan dalam memadamkan kebakaran di hutan kawasan Bukit Batu Menangis, tetapi karena yang terbakar diatas bukit dan ditambah sulitnya mendapatkan air, sehingga api sulit dipadamkan, dan ditambah jalan menuju lokasi kebakaran tidak ada, sehingga kami juga tidak bisa membuat jalan karena termasuk hutan lindung,” katanya.

Untuk areal gambut setelah, melakukan pertemuan dengan masyarakat, maka akhirnya diputuskan melakukan penyedeton air di Sungai Kayong untuk mengisi parit untuk membuat lahan gambut agar basah sehingga dapat mencegah kebakaran, katanya.

Kapolsek Nanga Tayap menyatakan, dirinya juga turun langsung ke lokasi kebakaran tersebut. Dugaan sementara api berasal dari percekikan api dari perladangan masyarakat

“Dan tidak ada api dari kebun, kalau mereka mau membuka lahan dengan cara dibakar tidak sebanding dengan investasi mereka, sehingga kecil kemungkinan kalau pihak perkebunan yang melakukannya,” katanya. Menurut dia, hingga saat ini, belum ada dari pihak perusaahaan dan masyarakat yang jadi tersangka dalam pembakaran hutan dan lahan,” ungkap Kapolsek Nanga Tayap.

“Pihaknya tidak mengetahui siapa yang membakar sehingga menyebabkan kebakaran diareal yang jaraknya sekitar 1-2 kilometer dari desanya. Atas kejadian itu, kami minta bantuan ke pihak PT ALM, dan reaksi mereka cukup baik, yakni langsung turut serta memadamkan lokasi kebakaran itu. Yang jelas kami sudah lama bekerjasama dengan pihak kebun dalam mencegah kebakaran. Karena lahan yang terbakar, lahan gambut, sehinga sulit dipadamkan, meskipun cepat diantisipasi,” ungkap Maspawandi.

Menurut Kadus Sungai Durian ini, apa yang dilakukan oleh pihak perkebunan, mereka tidak hanya menyelamatkan kebunnya, tetapi juga peladangan punya masyarakat dipinggir desa. “Malah dengan semangatnya memadamkan api, pak Herman mengalami luka bakar dibagian tangannya.

Menurut dia, luas hutan yang terbakar tidak seluas, seperti yang diinformasikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Kami sangat terbantu dengan hadirnya perkebunan sehingga warga kami bisa bekerja, dari 151 KK atau 300 warga, 90 persen diantaranya kini bekerja di perkebunan, dulunya kerja kayu, tetapi kayu sudah habis sehingga bisa kerja di kebun dengan gaji 79 ribu/hari,” katanya.

Hal senada juga diakui, Dikin tokoh masyarakat Sungai Durian. “Kami banyak mengucapkan terima kasih pada pihak PT ALM yang sudah berusaha sekuat tenaga dalam memadamkan kebakaran, karena kalau tidak dibantu mereka, mungkin api akan membakar kebun dan rumah warga yang jaraknya sudah tinggal 50 meter lagi.

“Kami menduga sumber api dari aktivitas orang yang tidak bertanggungjawab, seperti membakar ikan hasil tangkapan di hutan-hutan, karena dimusim kemarau sekarang ini, banyak orang yang mencari ikan, lalu dibakar di hutan pinggir sungai untuk dimakan. Adapula yang sengaja membakar hutan, dengan maksud agar hewan-hewan liar keluar dari sarangnya, sehingga mereka dengan mudah menangkap hewan buruan tersebut,” ungkapnya.

Sarpa’i warga Desa Sungai Durian, membenarkan umumnya warganya masih terus berladang dengan cara membakar dalam membersihkan lahan yang akan mereka tanami padi.

Fire Fighting

Our fire fighting Emergency Response Team

By: GAR Posted: October 13, 2015 Tags: , ,

Di Balik Kebakaran Lahan PT Agrolestari Mandiri (bagian pertama)

suarapemred.co.id – 7 Oktober 2015

Our firefighting efforts in the News: Emergency Response Team

Berjibaku Melawan Api di Lahan Gambit

Aksi Ikin (50) bak petugas Manggala Agni. Semak dan lalang diterabas. Pikirannya hanya satu, bagaimana bisa cepat memadamkan api. Selang pemadam selalu dalam genggaman. Arah semprotan mengejar titik api yang membara. Tapi apa daya. Api semakin membesar sementara cadangan air menipis. Ikin menyerah. Dalam hitungan menit, areal lahan yang terbakar pun semakin melees.

Ikin adalah warga Desa Sui Durian, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang. Selama kemarau melanda desanya, ia bersama warga lainnya berpartisipasi bersama PT Agrolestari Mandiri memadamkan api di lahan yang terbakar.

Maklum, areal kebakaran itu terjadi di dekat pemukiman warga berkisar empat kilometer. Di hutan itu, sama sekali tak ada akses jalan. Meski peralatan tempur, seperti mobil tangki dan Damkar perusahaan dikerahkan, mereka kesulitan menjinakkan api yang membakar area hutan lahan gambut tersebut.

“Kejadian kebakaran tersebut berlangsung cepat,” tutur Ikin, kemarin.

Cerita Ikin menaklukkan titik api itu terjadi awal Agustus 2015. Menurutnya, tudingan bahwa kebakaran lahan disebabkan oleh perusahaan perkebunan, tidak sepenuhnya benar.

Pada 9 Agustus 2015 misalnya. Laporan kebakaran lahan justru datang dari seorang karyawan perusahaan yang melaporkan melihat asap mengepul pada siang hari. Ikin bersama tim bergegas menuju titik api.

Sejumlah peralatan pemadaman dikerahkan. Ada 15 unit knaspsack sprayer, satu unit mobil Damkar, tiga unit tangki pemadam, satu unit mesin robin dan satu unit excavator.

“Kami waktu itu ada 35 orang ke lokasi. Ada manajer dan karyawan perusahaan juga di sana. Bahu-membahu memadamkan api,” tuturnya. Hari itu, api membakar sekitar 4,6 hektare lahan gambut.

Musim kemarau melanda Nanga Tayap dan sekitarnya, sekitar empat bulan. Musim panas dan kering menyebabkan kebakaran lahan tak terhindarkan. Apalagi kondisi tanah merupakan gambut. Bila sudah terbakar di lahan ini, api sulit dipadamkan, dan ini hampir terjadi setiap tahun.

“Apinya bisa cepat sekali menyebar. Dari kejauhan saja, bunga apinya bisa terbang di ketinggian enam meteran dan berpindah ke titik lain,” kata Sarpa’i, warga lainnya. Selama terjadi kebakaran lahan gambut, ia selalu turun ke lokasi memadamkan api.

Hanya saja, warga mengaku, medan titik api yang ingin dijangkau lebih sulit. Di areal hutan tidak ada akses jalan menuju titik api. Petugas hanya bisa menyisir dan menyemprotkan air di pinggiran kawasan hutan.

Tujuannya agar api tidak merembes ke areal lainnya. Tapi dari kejauhan, bunga api di lokasi kebakaran tampak terbang ke udara. Hari itu petugas khawatir, api akan merembes ke kawasan pemukiman warga.

“Hari itu juga kami putuskan berjaga-jaga dan memantau kemungkinan ada titik api lainnya,” kata Sarpa’i.

Sejak itu, kebakaran lahan semakin masif terjadi. Menurut catatan Agrolestari Mandiri, setidaknya dalam beberapa bulan terakhir, terjadi belasan kejadian kebakaran lahan di lahan gambut.

Ketua Tim Tanggap Darurat Kebakaran Lahan, PT Agrolestari Mandiri, Herman menyebutkan, kondisi paling parah justru terjadi pada 3 September 2015. Api membakar areal hutan gambut.

Asal api tidak diketahui. Dari pengakuan warga, api berasal dari lompatan bunga api dari kebakaran lahan di kawasan tersebut. Dugaan lain, ada aktivitas warga membuang puntung rokok di lahan gambut.

Maspawandi, Kepala Dusun Sui Durian, Desa Nanga Tayap, Ketapang mengatakan, warga dan perusahaan berusaha secara maksimal memadamkan api di kawasan tersebut.

Mesin pompa air dan mobil tangki 2 ribu kubik sudah dikerahkan. Sejumlah karyawan juga ikut ke lokasi. Sayangnya, di kawasan itu sama sekali tidak ada akses jalan. Petugas pemadam kebakaran hanya terhenti di pinggiran hutan.

“Kami tidak bisa masuk hutan,” kata Maspawandi menambahkan.

Aksi pemadaman hanya bertumpu pada areal lain. Terutama pada pemukiman warga. Karena lokasi yang terbakar dengan pemukiman, hanya berjarak empat kilometer. Sangat dekat. “Benar kata orang. Api itu setan,” kata Maspawandi.

Bila sudah membesar, sulit sekali dipadamkan. “Beruntung ada Sinar Mas yang menyiagakan alat pemadam. Kalau tidak ada, pemukiman warga kami ikut terbakar,” tambahnya.(agus wahyuni/lis/sut)