Newsroom

Fire Fighting

Our fire fighting Emergency Response Team

By: GAR Posted: October 13, 2015 Tags: , ,

Di Balik Kebakaran Lahan PT Agrolestari Mandiri (bagian pertama)

suarapemred.co.id – 7 Oktober 2015

Our firefighting efforts in the News: Emergency Response Team

Berjibaku Melawan Api di Lahan Gambit

Aksi Ikin (50) bak petugas Manggala Agni. Semak dan lalang diterabas. Pikirannya hanya satu, bagaimana bisa cepat memadamkan api. Selang pemadam selalu dalam genggaman. Arah semprotan mengejar titik api yang membara. Tapi apa daya. Api semakin membesar sementara cadangan air menipis. Ikin menyerah. Dalam hitungan menit, areal lahan yang terbakar pun semakin melees.

Ikin adalah warga Desa Sui Durian, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang. Selama kemarau melanda desanya, ia bersama warga lainnya berpartisipasi bersama PT Agrolestari Mandiri memadamkan api di lahan yang terbakar.

Maklum, areal kebakaran itu terjadi di dekat pemukiman warga berkisar empat kilometer. Di hutan itu, sama sekali tak ada akses jalan. Meski peralatan tempur, seperti mobil tangki dan Damkar perusahaan dikerahkan, mereka kesulitan menjinakkan api yang membakar area hutan lahan gambut tersebut.

“Kejadian kebakaran tersebut berlangsung cepat,” tutur Ikin, kemarin.

Cerita Ikin menaklukkan titik api itu terjadi awal Agustus 2015. Menurutnya, tudingan bahwa kebakaran lahan disebabkan oleh perusahaan perkebunan, tidak sepenuhnya benar.

Pada 9 Agustus 2015 misalnya. Laporan kebakaran lahan justru datang dari seorang karyawan perusahaan yang melaporkan melihat asap mengepul pada siang hari. Ikin bersama tim bergegas menuju titik api.

Sejumlah peralatan pemadaman dikerahkan. Ada 15 unit knaspsack sprayer, satu unit mobil Damkar, tiga unit tangki pemadam, satu unit mesin robin dan satu unit excavator.

“Kami waktu itu ada 35 orang ke lokasi. Ada manajer dan karyawan perusahaan juga di sana. Bahu-membahu memadamkan api,” tuturnya. Hari itu, api membakar sekitar 4,6 hektare lahan gambut.

Musim kemarau melanda Nanga Tayap dan sekitarnya, sekitar empat bulan. Musim panas dan kering menyebabkan kebakaran lahan tak terhindarkan. Apalagi kondisi tanah merupakan gambut. Bila sudah terbakar di lahan ini, api sulit dipadamkan, dan ini hampir terjadi setiap tahun.

“Apinya bisa cepat sekali menyebar. Dari kejauhan saja, bunga apinya bisa terbang di ketinggian enam meteran dan berpindah ke titik lain,” kata Sarpa’i, warga lainnya. Selama terjadi kebakaran lahan gambut, ia selalu turun ke lokasi memadamkan api.

Hanya saja, warga mengaku, medan titik api yang ingin dijangkau lebih sulit. Di areal hutan tidak ada akses jalan menuju titik api. Petugas hanya bisa menyisir dan menyemprotkan air di pinggiran kawasan hutan.

Tujuannya agar api tidak merembes ke areal lainnya. Tapi dari kejauhan, bunga api di lokasi kebakaran tampak terbang ke udara. Hari itu petugas khawatir, api akan merembes ke kawasan pemukiman warga.

“Hari itu juga kami putuskan berjaga-jaga dan memantau kemungkinan ada titik api lainnya,” kata Sarpa’i.

Sejak itu, kebakaran lahan semakin masif terjadi. Menurut catatan Agrolestari Mandiri, setidaknya dalam beberapa bulan terakhir, terjadi belasan kejadian kebakaran lahan di lahan gambut.

Ketua Tim Tanggap Darurat Kebakaran Lahan, PT Agrolestari Mandiri, Herman menyebutkan, kondisi paling parah justru terjadi pada 3 September 2015. Api membakar areal hutan gambut.

Asal api tidak diketahui. Dari pengakuan warga, api berasal dari lompatan bunga api dari kebakaran lahan di kawasan tersebut. Dugaan lain, ada aktivitas warga membuang puntung rokok di lahan gambut.

Maspawandi, Kepala Dusun Sui Durian, Desa Nanga Tayap, Ketapang mengatakan, warga dan perusahaan berusaha secara maksimal memadamkan api di kawasan tersebut.

Mesin pompa air dan mobil tangki 2 ribu kubik sudah dikerahkan. Sejumlah karyawan juga ikut ke lokasi. Sayangnya, di kawasan itu sama sekali tidak ada akses jalan. Petugas pemadam kebakaran hanya terhenti di pinggiran hutan.

“Kami tidak bisa masuk hutan,” kata Maspawandi menambahkan.

Aksi pemadaman hanya bertumpu pada areal lain. Terutama pada pemukiman warga. Karena lokasi yang terbakar dengan pemukiman, hanya berjarak empat kilometer. Sangat dekat. “Benar kata orang. Api itu setan,” kata Maspawandi.

Bila sudah membesar, sulit sekali dipadamkan. “Beruntung ada Sinar Mas yang menyiagakan alat pemadam. Kalau tidak ada, pemukiman warga kami ikut terbakar,” tambahnya.(agus wahyuni/lis/sut)