Newsroom

In the News

Our firefighting efforts in the News: Firefighting Preparation


Di Balik Cerita Kebakaran Lahan PT Agrolestari Mandiri (bagian tiga-selesai)

suarapemred.co.id – 8 Oktober 2015

Siagakan Kanal dan Embung

Our firefighting efforts in the News: Firefighting Preparation

Suara Pemred melihat langsung bagaimana kesigapan dan kesiapan PT Agrolestari Mandiri, menghadapi kebakaran lahan. Kawasan perusahaan ini dikelilingi dengan rimbunnya pohon sawit.

Akses jalan mengelilingi kebun juga mudah. Sawit yang ditanam ribuan hektare itu bisa ditempuh dengan mobil dan angkutan berat. Di antara areal sawit itu terpasang plang amaran atau peringatan “Dilarang Membakar.”

Pihak perusahaan juga membangun beberapa unit menara api setinggi 6-10 meter. Di menara ini, bila memasuki musim kemarau, sejumlah karyawan berjaga di atas menara.

Khusus untuk cadangan air, perusahaan juga membuat embung air di titik kawasan rawan kebakaran. Embung ini dibuat dengan bahan terpal ukuran besar, kemudian di dalamnya diisi air ribuan kubik. Itu baru skala kecil. Dalam skala besar, perusahaan juga telah membangun tangki air ukuran 20 ribu dan 500 ribu kubik, juga ditempatkan di daerah rawan kebakaran.

“Persiapan itu sudah kami lakukan beberapa bulan lalu. Jauh sebelum kemarau panjang melanda sekarang,” kata Haryo S, satu di antara manajer di PT Agrolestari Mandiri, kepada Suara Pemred.

Ibarat dalam sebuah medan pertempuran. Kanal, embung, dan tanki cadangan air adalah amunisi yang harus dipersiapkan. Tetapi peralatan tempur sesungguhnya justru ada di barak.

Sebagai antisipasi kebakaran perusahaan perkebunan PT Agrolestari Mandiri memiliki mobil Damkar standar Nasional, belasan trailer tangki dan mesin pompa air portabel.

Bahkan untuk pasukan juga dipersiapkan seragam standar pemadam kebakaran. Seperti helm, sepatu boat, masker, kaca mata, sarung tangan kulit, galah pengait, chain saw, sekop, tool kit, karung goni dan lainnya.

“Semua peralatan yang kita punya, kita turunkan ke lokasi bila terjadi kebakaran lahan,” tutur Haryo.

Siang itu, pada sebuah pondok beratap seng, tiga lelaki sedang duduk santai. Mereka adalah Sarpai, Akin, Maspawadi. Ketiganya adalah karyawan Agrolestari Mandiri. Kebetulan, lokasi gubuk, berada di areal kebun

“Tahun ini kami rasakan betul kemarau panjang,” kata Sarpai.

Ia adalah warga Sui Durian, Kecamatan Nanga Tayap, Ketapang. Sarpai mengklaim, musim kemarau ini yang terlama dalam beberapa tahun terakhir. Mereka bercerita, di desanya lebih dari empat bulan, hujan tidak turun. Selama itu pula, warga mencemaskan adanya kebakaran lahan.

“Untung ada perusahaan bantu kami memadamkan api dengan peralatan milik perusahaan. Kalau tidak, desa kami bisa ikut terbakar,” kata Sarpai.

Padahal, dari dulu sampai sekarang, warga lokal masih berladang dengan teknik membakar lahan. Hanya saja, dulu jarang terjadi kemarau panjang. Biasanya hanya sebulan lebih. Tapi ini sudah lebih dari empat bulan.

“Kalau pun ada lahan yang terbakar, tidak meluas seperti sekarang,” tuturnya.

Ia juga tidak setuju, bahwa perusahaan perkebunan selalu dihubungkan dengan pelaku pembakaran lahan. Warga Desa Sui Durian misalnya, hampir 70 persen adalah karyawan PT Agrolestari Mandiri, sampai sekarang tidak pernah melihat adanya aktivitas perusahaan membakar lahan. Setiap kali melakukan pembukaan lahan, semua dilakukan dengan alat berat. Seperti buldoser dan traktor.

“Mulai dari jabatan buruh, mandor hingga manajer. Semuanya diberi amaran menjaga lahan tidak terbakar,” kata Ikin menambahkan. Termasuk membuang puntung rokok tidak boleh dibuang sembarangan.

Pada kesempatan terpisah, Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Agatho Adan menyebutkan, sejak Kalbar dilanda bencana kabut asap, pihaknya sudah membentuk Satgas Sosialisasi.

“Kami sudah mengundang sekitar 43 perusahaan di Kalbar membahas permasalahan ini. Pada intinya mereka telah siap. Baik dari segi personil maupun kelengkapan alat Dampar,” tuturnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Nyarong menambahkan, sampai saat ini belum ada teknologi canggih yang bisa memadamkan api di lahan gambut.

“Kami sudah berusaha memadamkan api dengan segala cara,” tutur Nyarong, belum lama ini, kepada Suara Pemred.

Berdasarkan pengalaman, titik api yang kelihatan di permukaan, pada saat dipadamkan dengan cara disiram dari atas, hanya bisa memadamkan sementara. Sementara bara api justru berada di dalam lahan, bisa membakar hingga kedalaman satu meter.

“Jadi kalau kita padamkan dari atas. Padamnya sementara. Di lahan yang sama bisa terbakar lagi,” tuturnya. (agus wahyuni/lis)

| | |