Newsroom

Environment

7 hal yang perlu Anda tahu tentang kebakaran hutan dan kabut asap di Asia Tenggara


Datangnya musim kemarau setiap tahun di Indonesia menandai meningkatnya pemberitaan tentang kabut asap dan titik panas (hotspot). Reaksi spontan kebanyakan orang mungkin masih seputar, “Oh, pasti perusahaan sawit penyebabnya”, meskipun tidak selalu demikian. Kami membagikan beberapa fakta untuk membantu Anda lebih memahami situasi yang terjadi, dan apa yang Perusahaan lakukan untuk mencegah kebakaran hutan.

  1. Perubahan iklim memperburuk musim kering yang memicu kebakaran. Meskipun kami memperkirakan kondisi yang lebih kering dari biasanya pada periode Juli-September setiap tahun, fenomena cuaca seperti El Nino dapat memperburuk situasi. Untunglah, ada kabar baik pada 2020 ini; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa musim kemarau kali ini diperkirakan tidak akan seburuk tahun lalu.
  2. Kebakaran yang disebabkan kegiatan pertanian skala kecil terus meningkat. Penelitian World Resources Institute (WRI) yang telah diakui secara internasional menunjukkan bahwa sebagian besar kebakaran tidak terjadi di dalam area konsesi kelapa sawit. Pada faktanya, beberapa studi menunjukkan bahwa deforestasi dari perkebunan skala besar saat ini mengalami penurunan, sebaliknya deforestasi dari pertanian berskala kecil dan sebagai akibat dari kebakaran justru meningkat.
  3. Sistem pemantauan dan pelaporan kebakaran sangat penting untuk melakukan respons cepat. Sistem pelaporan kebakaran Perusahaan yang kuat mampu melacak sejumlah titik panas di dalam dan di sekitar perkebunannya. Sistem ini memungkinkan kami menemukan dan merespons kebakaran dengan cepat. Dari Januari hingga Juni tahun ini, ada sembilan titik panas di konsesi Perusahaan seluas 10,75 hektar. Setelah diselidiki, sebagian besar penyebabnya adalah penyiapan lahan pertanian oleh pihak di luar Perusahaan dan perilaku mematikan puntung rokok yang tidak tepat. Lihat laporan insiden kebakaran terbaru di sini.
  4. Personel Tim Kesiapan dan Tanggap Darurat (KTD) Perusahaan terlatih untuk mengatasi kebakaran yang terjadi. Ketika terjadi kebakaran, personel kami adalah aset terbesar Perusahaan. Kami memiliki 10.000 personel KTD, yang bersiaga di seluruh konsesi, dan terlatih serta siap menanggulangi kebakaran. Kebun kami juga dilengkapi dengan peralatan pemadam kebakaran.
  5. Perusahaan memiliki rencana penanggulangan kebakaran jangka panjang. Program bebas kebakaran dalam Desa Makmur Peduli Api (DMPA) memegang peran yang sangat penting dalam pencegahan secara proaktif untuk kebakaran yang disebabkan pertanian skala kecil (lihat poin nomor dua di atas). Program ini mencakup pencegahan dan respons cepat terhadap kebakaran, konservasi, serta ketahanan pangan. Simak video ini untuk mempelajari lebih lanjut program tersebut.Hingga akhir 2019, DMPA telah diluncurkan di 32 desa. Program tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat dengan berbagai cara. Desa-desa yang berhasil mencegah munculnya titik panas juga menerima bantuan sebesar 50-100 juta rupiah dari Perusahaan dalam bentuk fasilitas dan infrastruktur bagi desa penerima.
  1. Generasi muda perlu mempelajari pencegahan kebakaran sejak dini. Untuk mendidik anak-anak tentang bahaya kebakaran hutan, kami telah meluncurkan buku cerita berjudul Rumbun dan Sahabat Hutan. Perusahaan berharap sebagai pemimpin generasi mendatang, mereka dapat menginspirasi orang-orang di sekitar mereka untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, terutama menghilangkan praktik tebang bakar. Unduh salinan buku cerita di sini.
  2. Pentingnya mengurangi ancaman kebakaran lahan gambut. Lahan gambut adalah sebuah ekosistem unik yang hanya ditemukan di beberapa bagian di dunia (seperti Indonesia), dan sangat mudah terbakar saat kering. Kebakaran gambut dianggap lebih berbahaya daripada kebakaran hutan karena menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca (karena kandungan karbon yang tinggi di dalam tanah), dan begitu terbakar dapat membara selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan di bawah tanah. Perusahaan telah merehabilitasi lahan gambut di area konsesi di Kalimantan Barat sejak 2016 untuk mengurangi risiko kebakaran gambut. Perusahaan juga baru saja mengumumkan program Desa Peduli Gambut bersama Badan Restorasi Gambut Indonesia (BRG). Program tersebut akan mengedukasi desa-desa di sekitar lahan gambut mengenai cara merawat lahan gambut.

Situasi COVID-19 tidak mengurangi komitmen atau investasi Perusahaan dalam pencegahan kebakaran. Meskipun beberapa pekerjaan dalam upaya melibatkan peran serta masyarakat terhambat karena pembatasan pergerakan, kami masih tetap dapat menjangkau komunitas di mana ada personel yang terlibat langsung, dan mengadakan berbagai kegiatan yang dilakukan secara online bila layanan internet tersedia.

Baru-baru ini Perusahaan meluncurkan serangkaian sticker WhatsApp bertema kesadaran akan bahaya api yang memungkinkan anggota masyarakat untuk saling mengingatkan satu sama lain tentang bahaya kebakaran hutan, dan apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya (misalnya tidak sembarangan membuang puntung rokok).

Untuk mendapatkan pembaruan informasi penting dari Perusahaan, terutama selama musim kemarau, silakan daftar di tautan ini untuk mendapatkan buletin bulanan kami.

| | |