Newsroom

People

Perjuangan Melawan COVID-19 Melalui Pembuatan Masker


Para relawan sedang menyetrika bahan untuk pembuatan masker kain.

COVID-19 yang terjadi saat ini tidak hanya dirasakan masyarakat di tanah air, tetapi warga di seluruh belahan dunia.  Virus yang menyerang saluran sistem pernafasan pada manusia ini, setidaknya telah merenggut puluhan ribu nyawa.

Sebagai perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 170.000 karyawan di Indonesia, Sinar Mas Agribusiness and Food merespon dengan cepat melalui penerapan new measures and procedures untuk memastikan keselamatan bagi seluruh pekerja.

Sebagai salah satu inisiatif, perusahaan berkolaborasi dengan organisasi kemanusiaan Tzu Chi Indonesia perwakilan Sinar Mas, untuk membuat masker kain yang dapat digunakan berulang kali untuk melindungi karyawan dan masyarakat di sekitar area perusahaan. Kelompok Dharma Wanita (Dhawa) Tzu Chi Sinar Mas memimpin pelaksanaan kegiataan ini dan banyak dari mereka merupakan istri dari karyawan perusahaan.

Target mereka adalah memproduksi 30.000 masker, tidak hanya didistribusikan ke karyawan perusahaan, namun juga masyarakat yang tinggal di sekitar area operasional perusahaan. Tidak mudah, namun kelompok Dhawa di Sumatera, Kalimantan dan Papua mengambil tantangan tersebut.

Membuat masker kain sebagai alat perlindungan diri (APD) memerlukan niat, keterampilan, keuletan dan waktu. Ditengah kesibukan sehari-hari mereka mengurus rumah tangga dan keluarga, para Perempuan memberikan sebagian waktu mereka untuk memberikan kontribusi yang sangat penting. Proses pembuatan masker tidak selalu berjalan mulus, misalnya ketika menghadapi kesulitan mengirimkan pasokan kain untuk membuat masker ke area terpencil yang jauh dari pusat kota.

Kelompok Dhawa dibagi berdasarkan unit/estate di mana mereka bertempat tinggal. Setiap kelompok perempuan di masing-masing unit terdiri dari 5-7 orang perempuan. Untuk memastikan social distancing diterapkan selama inisiatif ini berlangsung, pembatasan jumlah orang per kelompok dilakukan dan memastikan mereka mengenakan APD (Alat Perlindungan Diri) selama proses pengerjaan berlangsung. Oleh karena itu, sebagian besar dari mereka mengerjakan pembuatan masker di rumah masing-masing, dan hanya sebagian saja yang mengerjakan di fasilitas umum seperti Rumah Pintar (Rumpin) karena ketiadaan ruangan yang memadahi di rumah mereka.

Salah satu anggota kelompok Dhawa sedang menjahit bahan yang akan dibuat masker kain.

Mery Melano Fernando adalah salah satu relawan dari Region Kaltim 2, unit JLYM (Jakluay Mill). Mery adalah istri dari Mill Manager Jakluay, Fernando. Sejak 12 April, selain sibuk mengurusi urusan rumah tangga sehari-hari, dia juga ambil bagian dalam inisiatif pembuatan masker ini. Dia bekerja membuat masker bersama 12 orang perempuan di kebun yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok JLYM (Jakluay Mill) dan JLYT (Jakluay Transport). Bertindak sebagai koordinator, Mery membagi pekerjaan kepada dua kelompok tersebut untuk memproduksi masker melalui tangan terampil mereka. Mereka mengerjakaan di rumah masing-masing untuk memastikan social distancing.

Mery menyebutkan bahwa tidak mudah untuk mengajak dan meyakinkan orang lain berbuat kebaikan. “Saya memberitahu pada diri sendiri dan perempuan lain bahwa kontribusi mereka penting dalam peperangan melawan COVID-19. Saya menekankan bahwa tidak ada kontribusi besar atau kecil. Semua kontribusi mereka sangat berarti untuk saudara-saudara kita di luar sana”, jelas Mery.

Sebagai salah satu strategi, Mery melakukan pemetaan minat dan bakat para anggota kelompok perempuan. Dari situlah, dia bisa mendistribusikan tugas kepada masing-masing kelompok untuk dikerjakan dengan sebaik mungkin.

“Ketika mereka mengerjakan apa yang mereka minati dan sukai, maka itu bukan menjadi beban untuk mereka. Oleh karena itu, saya membagi mereka ke spesialisasi khusus seperti menggunting bahan, menjahit, momotong tali, dan lain-lain”, tambah Mery.

Dia juga tidak menyarankan para kelompok perempuan untuk berkumpul. Bahan dasar yang mereka perlukan untuk membuat masker kain akan diantar ke rumah masing-masing untuk dikerjakan. Sehingga potensi penyebaran COVID-19 dapat diminimalisir.

Setiap harinya, Mery dan kelompok perempuan JLYM dan JLYT dapat memproduksi 80 masker kain per hari melalui tangan terampil mereka. Sejak produksi masker kain dimulai dan tulisan ini dibuat, total jumlah masker kain yang telah dihasilkan sebanyak 350 masker. Untuk mencapat target 1.000 masker kain, mereka membutuhkan waktu sekitar 8 hari lagi.

| | |